PROFIL PT ARUN NGL

Kilang LNG Arun dimiliki oleh Pemerintah/Kemenkeu dan dibangun oleh Pertamina di Blang Lancang, Lhokseumawe Provinsi Aceh yang terletak di pantai utara Sumatera. Lokasi tersebut dipilih mengingat kemudahan sarana transportasi laut dan dekat dengan ladang gas Arun sehingga biaya dapat ditekan sekecil mungkin,

Keputusan membangun LNG Arun dibuat setelah ditemukannya salah satu sumber gas terbesar di dunia (17 TCF) pada tahun 1971 oleh Mobil Oil Indonesia Inc, mitra usaha Pertamina atas dasar kontrak bagi hasil.

Keberhasilan PT Arun setelah terkenal luas reputasinya dibidang keselamatan, kehandalan kilang dan kemampuan Sumber Daya Manusianya.

Berbagai penghargaan bidang keselamatan kerja telah diterima dari dalam maupun luar negeri, antara lain dari British Safety Council, National Safety Council USA, American Petroleum Institute USA, Kementerian Tenaga Kerja & Transmigrasi dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Tahun 2010 PT Arun NGL meraih penghargaan lingkungan Proper hijau dari Dewan Proper Nasional dibawah Koordinasi KLH.

Kilang LNG Arun memiliki tingkat kehandalan diatas 98% sehingga menjadi salah satu kilang LNG terhandal di dunia. Dalam bidang pengembangan SDM PT Arun sudah berhasil mendidik para pekerjanya menjadi Aset SDM Nasional yang berharga, sehingga lebih dari 200 karyawan PT Arun kini bekerja di industry Oil & Gas di berbagai Negara belahan dunia.

Kilang LNG Arun dioperasikan oleh PT Arun NGL, sebuah perusahaan non profit yang sahamnya dimiliki oleh Pertamina 55%, Mobil Oil Indonesia (sekarang Exxon Mobil Indonesia Inc.) 30% dan JILCO (Japan Indonesia LNG Co.Ltd) 15%.

Pembangunan sarana kilang LNG Arun diawali dengan pembangunan 3 unit produksi LNG (Train I, II, III), konstruksi dimulai akhir tahun 1974 oleh Bechtel Inc sebagai kontraktor utamanya dengan kapasitas 1.2 juta ton LNG/unit/tahun. Terukir tetesan pertama LNG pada tanggal 29 Agustus 1978 dan pengapalan perdananya dilakukan 4 Oktober 1978 dengan kapal LNG Aquarius dengan tujuan ke Jepang.

Disamping produksi utamanya LNG, kilang Arun juga memproduksi kondensat dan LPG sebagai produk ikutannya.

Awal 1982 kilang Arun di kembangkan lagi dengan menambah 2 train (IV dan V) untuk meningkatkan produksi 3 juta ton/tahun, untuk diekspor ke Jepang Timur. Pengembangan proyek dilanjutkan dengan pembangunan train VI untuk memenuhi kebutuhan LNG Korea Selatan. Pada Februari 1987 pembangunan kilang LPG dilakukan dengan kapasitas produksi sebesar 1.6 juta ton LPG/tahun.

Pada tahun 1999 kilang LNG Arun mulai memproses gas dari ladang gas NSO yang berlokasi di lepas pantai, yang sebelumnya gas tersebut dimurnikan di kilang SRU (unit pemisah sulfur) milik Exxon Mobil yang dioperasikan oleh PT Arun. Dengan ditemukannya sumber gas di Aceh, disamping PT Arun telah tumbuh pula industri hilir berbasis gas antara lain: Pabrik Pupuk PT Pupuk Iskandar Muda, PT AAF dan PT KKA yang menjadikan pembangunan daerah itu tumbuh berkembang.

Sampai Akhir tahun 2010 PT Arun telah mengolah, memproduksi dan mangapalkan LNG sebanyak 4.231 kapal setara dengan 235.445.987 ton dan kondensat sebanyak 1.868 kapal atau 756.244.179 Barel. Sedangkan LPG mencapai 14.5 juta ton dan berhenti produksi pada bulan Oktober 2000.

Referensi: Laporan CSR 2010

Posted by: fahmi_metuah

Posted on March 13, 2012, in Artikel, Migas and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. =-?..нмм..=-?°. Hmm ◦°◦ºº =-?

    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: